Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Nikmati Edisi Terbaru dan dapatkan update berita terbaru Tangerang Raya setiap hari.

Baca E-Paper

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Musim Hujan Mundur, Pemprov Banten Siagakan Rekayasa Cuaca

Bagikan: Facebook X WhatsApp

SERANG | tangerangraya.co

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten memperkuat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengantisipasi mundurnya awal musim hujan yang berpotensi memperpanjang periode kemarau di sejumlah wilayah.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Banten Andra Soni usai menerima paparan mengenai dinamika iklim dari jajaran Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II di Gedung Negara Provinsi Banten, Jalan K.H. Syam’un Nomor 5, Kota Serang, Rabu (7/10/2026).

Andra Soni mengatakan, informasi cuaca dari BMKG menjadi salah satu dasar bagi pemerintah dalam menentukan langkah mitigasi. Terutama untuk mengantisipasi dampak kekeringan, krisis air bersih, ancaman terhadap sektor pertanian dan kesehatan, serta potensi bencana hidrometeorologi.

“Perlu diantisipasi mundurnya musim hujan dan dampak kekeringan ini sejak dini,” ujar Gubernur Andra Soni.

Saat ini, Pemprov Banten memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan BMKG untuk mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan perhatian khusus. Langkah tersebut dilakukan agar strategi penanganan dapat disiapkan sebelum dampak kemarau meluas.

Sementara itu, Plt. Kepala BBMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati menjelaskan, berdasarkan analisis BMKG, awal musim hujan tahun ini diprakirakan mundur hingga tiga dasarian atau sekitar satu bulan dibandingkan kondisi normal.

Ia merinci, wilayah Banten bagian selatan seperti Kabupaten Lebak dan Pandeglang diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada November. Sementara wilayah Banten bagian utara diprediksi baru mengalami musim hujan pada Desember.

Mundurnya musim hujan tersebut berkaitan dengan fenomena El Nino yang memicu perpanjangan periode kemarau. Kondisi itu berdampak pada ketersediaan air bersih, penyesuaian pola tanam, hingga meningkatnya risiko gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Ana juga mengingatkan kondisi tanah yang kering dan merekah perlu diwaspadai ketika hujan mulai turun. Hujan dengan intensitas tinggi setelah periode kering berpotensi memicu bencana hidrometeorologi di wilayah rawan, termasuk tanah longsor.

“Oleh karena itu, BMKG dan pemerintah daerah akan melakukan survei bersama,” tuturnya.

Survei tersebut dilakukan untuk memetakan wilayah prioritas penanganan berdasarkan kondisi faktual di masing-masing daerah.

Menindaklanjuti paparan tersebut, Gubernur Andra Soni memastikan Pemprov Banten telah berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah kabupaten/kota untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.

Pemprov Banten juga menyiagakan opsi penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk membantu pengisian debit waduk, termasuk Bendungan Karian, apabila hasil kajian BMKG dan kondisi atmosfer memungkinkan.

“Kalau diperlukan rekayasa cuaca, pemerintah daerah dan BMKG siap bersinergi,” tegasnya.

Menurut Andra Soni, langkah mitigasi tersebut diarahkan untuk mengubah pola penanganan dari yang semula responsif setelah bencana menjadi lebih antisipatif sejak dini. Upaya itu dilakukan dengan memaksimalkan pemanfaatan data, peralatan, dan keahlian BMKG.

“Prinsipnya, kita ingin langkah antisipasi yang terencana dengan baik,” pungkas Gubernur Andra Soni. (dam/hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *