Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Nikmati Edisi Terbaru dan dapatkan update berita terbaru Tangerang Raya setiap hari.

Baca E-Paper

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Banyak Pengangguran Sarjana di Tangerang

Bagikan: Facebook X WhatsApp

TANGERANG | tangerangraya.co

Komisi II DPRD Kota Tangerang mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang mengevaluasi efektivitas program Job Fair dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja di wilayah tersebut.

Evaluasi dinilai penting karena meski program Job Fair telah menyediakan ribuan peluang kerja, angka pengangguran dari kalangan berpendidikan tinggi masih menjadi perhatian.

Data Sensus Ekonomi 2026 yang dikutip BPS Kota Tangerang mencatat terdapat 12.675 pengangguran berpendidikan perguruan tinggi di Kota Tangerang.

Anggota Komisi II DPRD Kota Tangerang Kemal Fasya Madjid mengatakan, keberhasilan Job Fair tidak cukup diukur dari jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia. Menurutnya, indikator utama program tersebut adalah seberapa banyak pencari kerja yang akhirnya terserap oleh perusahaan.

“Job Fair harus kita ukur dari tingkat serapannya. Bukan hanya berapa lowongan yang dibuka, tetapi berapa warga Kota Tangerang yang benar-benar mendapatkan pekerjaan,” ujar Kemal.

Menurut Kemal, tingginya antusiasme masyarakat mengikuti Job Fair menunjukkan kebutuhan terhadap lapangan pekerjaan masih cukup besar. Kondisi tersebut, kata dia, perlu menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan kebijakan ketenagakerjaan di Kota Tangerang.

“Artinya, persoalan kita bukan semata-mata menyediakan lowongan pekerjaan, tetapi juga memastikan kompetensi pencari kerja sesuai dengan kebutuhan industri. Ini yang harus menjadi perhatian bersama, khususnya bagaimana program pelatihan, peningkatan keterampilan, sampai Job Fair bisa saling terhubung,” katanya.

Kemal menilai program Job Fair perlu dibarengi dengan pemetaan kebutuhan tenaga kerja dari dunia usaha dan industri. Langkah tersebut penting agar pelatihan dan peningkatan keterampilan yang diberikan pemerintah benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Dengan pemetaan tersebut, pencari kerja tidak hanya memperoleh informasi mengenai lowongan yang tersedia, tetapi juga mendapatkan keterampilan yang relevan dengan posisi yang dibutuhkan perusahaan.

Pemkot Tangerang sendiri terus mengembangkan akses masyarakat terhadap informasi dan peluang kerja melalui Job Fair Online. Pada edisi Kemerdekaan Agustus 2026, misalnya, tersedia 2.126 lowongan pekerjaan dari 16 perusahaan dengan 69 formasi jabatan.

Kemal berharap program tersebut tidak berhenti pada penyelenggaraan Job Fair dan pembukaan lowongan. Pemerintah daerah perlu memastikan adanya pemantauan terhadap proses rekrutmen hingga pencari kerja benar-benar mendapatkan pekerjaan.

“Kami berharap program ketenagakerjaan ini tidak berhenti pada kegiatan Job Fair saja. Harus ada tindak lanjut dan evaluasi secara berkala, termasuk data berapa pelamar yang diterima, berapa yang benar-benar bekerja, serta bidang pekerjaan apa yang paling banyak membutuhkan tenaga kerja,” pungkasnya.

Menurutnya, evaluasi secara berkala dapat membantu Pemkot Tangerang mengetahui efektivitas program ketenagakerjaan sekaligus menyusun kebijakan yang lebih tepat untuk menekan angka pengangguran, termasuk di kalangan lulusan perguruan tinggi. (Hab)

Sub: Komisi II DPRD Minta Job Fair Dievaluasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *