Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Nikmati Edisi Terbaru dan dapatkan update berita terbaru Tangerang Raya setiap hari.

Baca E-Paper

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

76 Anak Tangsel Dikirim ke Sekolah Rakyat Terintegrasi Pandeglang

Bagikan: Facebook X WhatsApp

TANGERANG SELATAN | tangerangraya.co

Sebanyak 76 anak asal Kota Tangerang Selatan (Tangsel) diberangkatkan untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi di Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Puluhan siswa tersebut berasal dari jenjang Sekolah Rakyat Dasar (SRD) hingga Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA). Pelepasan keberangkatan berlangsung di lingkungan Pemerintah Kota Tangsel pada Jumat (28/8/2026), sebelum rombongan diberangkatkan menuju lokasi sekolah di Pandeglang.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Tangsel Heli Slamet mengatakan, para siswa yang mengikuti program tersebut merupakan warga Tangsel yang berasal dari kelompok desil 1 dan desil 2. Sebelum ditetapkan sebagai peserta, mereka telah melalui proses verifikasi dan validasi data.

“Jadi kita melakukan penjangkauan kepada desil 1 dan desil 2 yang mempunyai anak usia sekolah. Ada tim kita dari pendamping PKH untuk menjangkau itu. Kalau sudah, ini sudah di-SK-kan. Kalau yang 76 ini sudah di-SK-kan,” ujar Heli, Sabtu (29/8/2026).

Dari total 76 siswa, sebanyak 16 anak mengikuti pendidikan di jenjang Sekolah Rakyat Dasar. Kemudian 30 siswa berada di jenjang Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP), sedangkan 30 siswa lainnya mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA).

Heli menjelaskan, proses penjaringan dilakukan dengan menyasar keluarga yang masuk kelompok kesejahteraan terbawah dan memiliki anak usia sekolah. Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dilibatkan untuk membantu menemukan keluarga yang memenuhi kriteria.

Mayoritas peserta berasal dari keluarga dengan orang tua yang bekerja di sektor informal. Di antaranya buruh lepas, pengemudi ojek online, hingga pekerja bangunan yang umumnya memiliki penghasilan tidak tetap.

Sebelum ditetapkan sebagai peserta, siswa dan orang tua juga mengikuti tahapan wawancara. Menurut Heli, proses tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan keluarga sekaligus memberikan pemahaman mengenai sistem pendidikan di Sekolah Rakyat.

Sebab, selain mengikuti kegiatan belajar mengajar, siswa akan tinggal di asrama selama menjalani pendidikan.

“Ya, kita tetap ada wawancara. Sifatnya kan ini harus ada kerelaan. Kita wawancara, kita edukasi bahwa dari segi fasilitas, sekolah ini memang sekolah unggulan untuk kaum yang ada di desil terendah, desil 1 dan desil 2,” jelasnya.

Selama mengikuti pendidikan, para siswa tidak dibebani biaya sekolah maupun kebutuhan pokok. Pemerintah menyediakan berbagai fasilitas, termasuk asrama, makanan dan minuman, serta seragam sekolah.

Dengan fasilitas tersebut, siswa hanya perlu membawa kebutuhan pribadi. Sementara berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan pendidikan dan kehidupan selama tinggal di asrama telah disiapkan pemerintah.(Hab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *