Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Nikmati Edisi Terbaru dan dapatkan update berita terbaru Tangerang Raya setiap hari.

Baca E-Paper

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Sebaran Abu Anak Krakatau Meluas ke 5 Provinsi

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | tangerangraya.co

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda memicu sebaran abu vulkanik yang terpantau meluas di atmosfer. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sebaran tersebut mengarah ke lima provinsi, yakni Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan informasi tersebut diperoleh dari hasil penggabungan data aktivitas vulkanik PVMBG melalui MAGMA Indonesia, informasi Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 milik BMKG.

“Berdasarkan gabungan informasi erupsi dan aktivitas vulkanik dari PVMBG melalui MAGMA Indonesia, informasi VAAC Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 oleh BMKG, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer ke arah Banten, sebagian Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta Lampung, dan Bengkulu,” kata Kepala Badan Geologi Lana Saria, seperti dilansir Antara, Minggu (6/9/2026).

Lana menjelaskan, pola sebaran abu vulkanik tidak bersifat tetap. Arah dan jangkauannya dapat berubah mengikuti dinamika arah serta kecepatan angin di berbagai lapisan atmosfer.

Selain faktor angin, luas sebaran juga dipengaruhi sejumlah faktor lain, seperti ketinggian kolom erupsi, lamanya erupsi berlangsung, hingga banyaknya material vulkanik yang dilepaskan.

“Oleh sebab itu arah sebaran abu dapat berubah dalam waktu relatif singkat dan harus diperbarui berdasarkan kondisi meteorologi terkini,” ujarnya.

Seiring kondisi tersebut, Lana mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan senantiasa mengikuti perkembangan informasi resmi pemerintah mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Ia menyebut dampak sebaran abu berpotensi meluas apabila kolom erupsi meningkat, aktivitas erupsi berlangsung lebih lama, atau arah angin membawa abu menuju kawasan permukiman maupun jalur penerbangan.

Badan Geologi juga terus membangun koordinasi dengan otoritas penerbangan guna menyampaikan informasi terbaru mengenai perkembangan erupsi dan sebaran abu vulkanik.

Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung aspek keselamatan penerbangan, mengingat keberadaan abu vulkanik di atmosfer dapat memengaruhi operasional penerbangan.

“Dampak terhadap operasional bandara ditetapkan oleh otoritas penerbangan berdasarkan informasi abu aktual, perkiraan penyebaran, dan standar keselamatan penerbangan,” kata Lana Saria.

Lana kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan satu peristiwa erupsi sebagai satu-satunya acuan dalam memprediksi sebaran abu. Perubahan kondisi atmosfer dan aktivitas gunung api membuat pemantauan harus dilakukan secara berkelanjutan.

Ia pun meminta masyarakat mengandalkan informasi dari lembaga resmi agar dapat menyikapi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau secara tepat dan tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. (dam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *