Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Nikmati Edisi Terbaru dan dapatkan update berita terbaru Tangerang Raya setiap hari.

Baca E-Paper

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Jangan Dibuang! Sisa Makanan Bisa Jadi Kompos Bernilai Guna

Bagikan: Facebook X WhatsApp

TANGERANG | tangerangraya.co

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang mengajak masyarakat mengurangi sampah makanan dengan memilah dan mengolah sisa bahan pangan menjadi kompos. Langkah ini dinilai dapat membantu menekan volume sampah yang dibuang sekaligus menghasilkan bahan organik yang bermanfaat bagi tanaman.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup yang dikutip dalam keterangan DLH Kota Tangerang, sampah makanan menyumbang 57,65 persen dari total sampah yang tercatat di Kota Tangerang.

Kepala DLH Kota Tangerang, Yudi Pradana, mengatakan tingginya kontribusi sampah makanan menjadi pengingat bagi masyarakat untuk memperbaiki kebiasaan dalam mengelola sampah, terutama yang berasal dari aktivitas dapur rumah tangga.

“Data tersebut menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah, khususnya sisa makanan dari dapur. Sampah organik yang langsung dibuang dan tercampur dengan sampah lainnya dapat menyulitkan proses pemilahan, menimbulkan bau tidak sedap, serta menghasilkan gas metana ketika terurai dalam kondisi minim oksigen di tempat pemrosesan akhir (TPA),” papar Yudi, Selasa (27/10/2026).

Menurutnya, salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah mengolah sisa makanan menjadi kompos. Selain mengurangi sampah yang dibuang, pengomposan juga dapat menghasilkan bahan organik untuk membantu menyuburkan tanah dan tanaman.

Yudi menjelaskan, pemilahan perlu dilakukan sejak dari rumah dengan memisahkan sampah makanan dari sampah anorganik, seperti plastik, kaca, dan logam. Pemilahan tersebut akan mempermudah proses pengolahan serta menjaga kualitas bahan organik yang digunakan untuk membuat kompos.

Berikut sejumlah langkah yang dapat diterapkan masyarakat untuk mengelola sampah makanan:

  1. Pisahkan sisa makanan dari sampah lainnya

Warga dapat menyediakan wadah khusus untuk menampung sisa sayuran, kulit buah, ampas kopi, dan bahan organik lain. Hindari mencampurkannya dengan plastik, kemasan makanan, serta sampah yang sulit terurai.

  1. Olah sampah organik menjadi kompos

Sisa sayuran, kulit buah, dan daun kering dapat diolah melalui pengomposan di rumah. Bahan organik basah bisa dicampur dengan bahan kering, seperti daun gugur atau kertas tanpa lapisan plastik. Kelembapan dan sirkulasi udara perlu dijaga agar proses penguraian berlangsung dengan baik.

Untuk metode kompos rumahan sederhana, sisa daging, tulang, produk susu, dan makanan berminyak sebaiknya tidak dimasukkan karena berpotensi menimbulkan bau serta mengundang hama.

  1. Cegah sampah makanan sejak awal

Pengurangan sampah juga dapat dimulai sebelum makanan terbuang. Masyarakat bisa merencanakan menu, berbelanja sesuai kebutuhan, menyimpan bahan pangan dengan benar, serta mengambil porsi makan secukupnya.

  1. Manfaatkan kompos untuk tanaman

Kompos yang telah matang dapat dimanfaatkan sebagai campuran media tanam untuk tanaman hias, sayuran, maupun tanaman pekarangan. Dengan demikian, sisa makanan dapat diolah kembali dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

DLH Kota Tangerang mengajak masyarakat menjadikan pemilahan, pengurangan, dan pengolahan sampah sebagai kebiasaan sehari-hari. Upaya yang dimulai dari rumah tangga diharapkan dapat mendukung pengurangan timbulan sampah di Kota Tangerang. (wil/dam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *