Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Berlangganan Koran Digital & Update Berita

Nikmati Edisi Terbaru dan dapatkan update berita terbaru Tangerang Raya setiap hari.

Baca E-Paper

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Harga Minyak Dunia Turun, Rupiah Menguat ke Rp17.695 per Dolar AS

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | tangerangraya.co

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Rabu, seiring penurunan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya harapan terciptanya perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Rupiah dibuka menguat 28 poin atau 0,16 persen menjadi Rp17.695 per dolar AS. Posisi tersebut lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.723 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pergerakan rupiah turut dipengaruhi oleh pelemahan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut terjadi seiring munculnya harapan terhadap membaiknya situasi geopolitik di Timur Tengah.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS seiring penurunan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah,” kata Lukman di Jakarta, Rabu.

Harapan tersebut salah satunya muncul setelah Iran dan Oman membahas upaya untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang memiliki peran penting dalam lalu lintas perdagangan minyak dunia.

Mengutip Xinhua, Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi dan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi membahas perkembangan pelayaran melalui Selat Hormuz.

Dalam pembahasan tersebut, kedua pihak menekankan pentingnya melanjutkan komunikasi untuk mencapai kesepahaman praktis yang dapat mendukung kelancaran arus pelayaran serta memperkuat keamanan dan stabilitas kawasan.

Keduanya juga membahas perkembangan terbaru di Timur Tengah dan berbagai upaya menciptakan kondisi yang memungkinkan dimulainya kembali dialog serta perundingan untuk mencari penyelesaian damai atas sejumlah persoalan yang masih belum terselesaikan.

Perkembangan tersebut turut memberikan tekanan terhadap harga minyak mentah dunia. Berdasarkan laporan Anadolu, harga minyak mentah Brent turun ke kisaran 86,2 dolar AS per barel setelah sebelumnya melemah 2,4 persen dalam perdagangan sesi sebelumnya.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan 5,5 persen menjadi sekitar 80,40 dolar AS per barel.

Penurunan harga minyak menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar karena dapat memengaruhi persepsi terhadap tekanan eksternal dan kondisi perdagangan global, termasuk pergerakan mata uang negara-negara emerging market seperti Indonesia.

Investor Waspadai Aksi Demonstrasi

Dari dalam negeri, Lukman menilai belum terdapat sentimen domestik yang cukup signifikan untuk memberikan pengaruh besar terhadap pergerakan rupiah.

Meski demikian, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati perkembangan aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (27/8/2026).

“Namun, investor akan mewaspadai dan mencermati demo besok (Kamis 27/8),” ujarnya.

Dengan mempertimbangkan perkembangan geopolitik global, penurunan harga minyak mentah serta sentimen domestik tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah masih bergerak dalam rentang terbatas.

Rupiah diproyeksikan berada pada kisaran Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS sepanjang perdagangan.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan situasi Timur Tengah, arah harga minyak dunia, serta respons investor terhadap berbagai sentimen domestik dalam beberapa waktu ke depan.(zma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *